Slimming | Detox | Rejuvenation
Obesitas, Kelebihan Makan dan Kurang Gerak

Obesitas, Kelebihan Makan dan Kurang Gerak

Benarkah obesitas hanyalah masalah kelebihan makan dan kurang gerak?

Seiring dengan majunya teknologi di bidang pangan, semakin melonjak pula jumlah orang-orang dengan berat badan berlebih atau lebih dikenal dengan istilah overweightOverweight berbeda dengan obesitas, overweight mengacu pada kelebihan berat badan dibandingkan dengan nilai ideal berdasar tinggi badan, sedangkan obesitas mengacu pada kelebihan timbunan lemak.

Menurut survei mutakhir tahun 2011 di 199 negara, jumlah orang dewasa dengan overweight di dunia mencapai 1,46 milyar. Dari data itu, diprediksi 502 juta di antaranya megalami obesitas. Dengan jumlah yang sekian banyaknya, semakin meningkat pula insiden penyakit-penyakit kronis sebagai konsekuensinya seperti penyakit jantung, diabetes mellitus dan kanker di hari-hari yang akan datang. Tidak heran jika ada pernyataan bahwa 65% penduduk dunia sekarang lebih mungkin meninggal akibat kelebihan makan daripada kelaparan.

Adanya fakta itu tentu menggelitik pikiran kita, bukankah teknologi kedokteran sudah sedemikian maju? Mengapa tidak bisa mencegah hal tersebut? Sudah sejak 1980 pedoman nutrisi untuk mengurangi makan dan melakukan olahraga dikeluarkan, tapi apa hasilnya? Apakah nasihat untuk mengurangi makan dan menambah aktivitas fisik masih relevan hingga kini? Tampaknya tidak.

Data-data riset selama beberapa dasawarsa terakhir banyak membuktikan bahwa kegemukan bukan masalah kelebihan makan dan kurangnya aktivitas fisik. Obesitas bukanlah masalah kurangnya niat si pasien melakukan perubahan gaya hidup. Jika obesitas hanya sekadar masalah niat, tidak akan ada masalah obesitas karena tidak ada satupun orang yang berniat menjadi gemuk. Hasil studi juga membuktikan bahwa aktivitas fisik rata-rata tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan data 40 tahun yang lalu, tapi dalam kurun waktu yang sama, insiden obesitas naik dramatis.

Ada banyak faktor memiliki kontribusi yang signifikan terhadap masalah obesitas, salah satunya yang seringkali lolos dari perhatian adalah masalah bakteri di saluran cerna. Makhluk hidup bersel satu yang biasa membusukkan sisa makanan dalam usus besar kita itu ternyata memiliki peran yang penting sebagai penyebab kegemukan. 10-30% sisa makanan yang tidak tercerna dan terbuang dari usus kecil akan dikonversi menjadi energi tambahan oleh bakteri di usus besar. Tak hanya itu, bakteri di usus besar dapat menghasilkan berbagai macam zat toksik yang mengganggu sistem imun kita dan menyebabkan akumulasi lemak berlebihan, meningkatkan sintesis kolesterol, serta perlemakan pada hati.

Hasil studi sekelompok ilmuwan di Washington University School of Medicine pada tahun 2004 menunjukkan bahwa sekelompok tikus yang saluran cernanya dijaga bebas bakteri ternyata memiliki massa lemak 60% lebih rendah dibandingkan dengan kelompok tikus pada umumnya meskipun mereka mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang sama persis. Di penelitian lain pada tahun 2012, Kaljmanik-Brown mengkonfirmasi temuan itu. Beliau menyimpulkan bahwa bakteri di usus besar dapat berkontribusi menyebabkan peradangan sistemik, menginduksi kondisi pra-diabetes, dan akumulasi lemak dalam hati. Lebih daripada itu, studi ini juga menunjukkan jika bakteri dalam usus besar tikus obes diimplantasikan ke dalam usus besar tikus normal, maka tikus normal tersebut menjadi obes meski tidak ada perubahan pada pola makan dan aktivitas fisik. Demikian juga sebaliknya, bakteri usus besar tikus normal dapat menurunkan berat badan pada tikus obesitas.

Fakta-fakta di atas menekankan arti pentingnya memelihara kesehatan saluran cerna, termasuk komposisi bakteri komensal di dalamnya jika Anda ingin mendapatkan berat badan yang ideal. Terapi terhadap problema obesitas seharusnya diarahkan pada tindakan untuk menjaga keseimbangan bakteri-bakteri yang baik pada saluran cerna, optimalnya fungsi dinding usus dan bukan hanya fokus pada masalah pembatasan kalori dan olahraga.

By dr Hendy Wijaya,M.Biomed ( AAM )